Panitera Pengganti PN Jakbar Ditangkap, MA Masih Lakukan Pemeriksaan Intensif

image

progresifjaya.com, JAKARTA - Mahkamah Agung (MA) terus melakukan pemeriksaan secara intensif terkait penangkapan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN) dan advokat JC, Pemeriksaan ini diduga bertujuan untuk mengetahui apa saja peran TS dalam kasus itu. Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara Mahkamah Agung. Abdullah.

Menurut Abdullah, berdasarkan data dari bidang pembinaan Ketua Pengadilan dan Panitera PN Jakbar telah melakukan pembinaan secara terprogram dan berkelanjutan kepada seluruh staf termasuk TS.

Pembinaan yang telah dilakukan tersebut mengacu pada regulasi yaitu Perma 8/2016 tentang Pengawasan dan Pembinaan Atasan Langsung di Lingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Bawahnya. 

“Atasan langsung Panitera Pengganti adalah Panitera. Bukan KPN. Atasan langsung yang dikenakan sanksi apabila tidak melakukan pembinaan,” tegasnya.

Ia melanjutkan, hingga kini pihak masih terus melakukan pemeriksaan secara intensif, “Maka saya belum bisa memberikan jawaban. Kita tunggu proses sedang berlangsung,” ucap Abdullah mengakhiri.

Seperti telah diketahui, seorang panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Barat berinisial TS, bersama JC yang berprofesi sebagai Advokat, dicokok tim gabungan dari petugas KPK dan Badan Pengawas (Bawas), Mahlamah Agung, Jumat (05/02/20).

Dari operasi senyap itu petugas KPK dan Bawas MA berhasi menyita uang tunai sebesar Rp15 juta.

Dari hasil penelusuran, Rabu (12/2/2020) malam, inisial TS panitera di PN Jakbar diduga adalah Teddy Subroto. Sedangkan Advokat JC yakni ditengarai bernama Jhon Chandra. Nama Advokat John Chandra dalam website PN Jakbar saat ini tengah menangani perkara perdata bernomor 577/PDT.G/2019/PN.JKT.BRT.

Dalam informasi publik itu Jhon Chandra duduk sebagai Tergugat II, sedang Tergugat I adalah PT Mahakarya Agung Putra melawan Mustika Waty sebagai Penggugat.

Diduga pemberian suap itu terkait penundaan kewajiban pembayaran utang alias PKPU terhadap apartemen Grand Eschol Residence atas nama Jhon Chandra sebesar Rp400 juta.

Selain itu Jhon juga dilarang menggunakan uang senilai Rp900 juta dalam bentuk mata uang Negara Singapura yang kini berada dalam kas PN Jakbar.

Terbongkarnya aksi dugaan gratifikasi oleh Panitera Teddy berawal tim KPK mendapat laporan masyarakat Jumat silam. Dari hasil laporan itu KPK bersama Bawas MA mendatangi PN Jakbar dan langsung melakukan inspeksi mendadak didapati barang bukti berupa uang sebesar Rp15 juta. 

Menurut informasi yang beredar, kasus ini akan ditangani secara etik oleh Bawas Mahkamah Agung. Sedangkan tindak pidana akan diserahkan kepada komisi anti suap.

Penulis: Arfandi Tanjung

Editor: Hendy

Fri, 21 Feb 2020 @02:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PROGRESIF JAYA · All Rights Reserved
powered by sitekno