MENGHADAPI INDUSTRI 4.0 SDM RI MASIH RENDAH

image

Indonesia belum siap menghadapi era industri teknologi 4.0 yang menyerbu negara-negara industri di era industry 4.0 dalam persaingan, kita masih memerlukan pendidikan yang lebih serius untuk masuk ke dalamnya. Dan pendidikan pun tidak dapat semata-mata diharapkan, ucap Ketua Bappenas Bambang Brodjonegoro Rabu pekan lalu di Jakarta.

Rendahnya pendidikan  warga masyarakat tersebut menurut Bambang memicu tingginya kemiskinan akibat meningkatnya pengangguran. Padahal Kemerdekaan yang telah kita capai tersebut adalah pintu gerbang menuju kehidupan sejahtera dan adsil makmur seperti dicita-citakan para founding fathers alias para pendiri bangsa di negeri ini.

 Indikator tingkat kualitas sumber daya manusia (SDM) terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 yang menyebut  proporsi penduduk yang umurnya 15 tahun ke atas yang punya ijazah tinggi hanya 8,8 %, SMA hanya 26,4%, SMP 21,2%, SD paling banyak yakni 43, 7%.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengingatkan , kualitas pendidikan manusia penting untuk modal Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Menurut Bambang, Indonesia memiliki modal yang banyak , terutama dalam modal alam, Namun dalam sumber daya alam tidak bisa digunakan untuk bertumpu menghadapi revolusii industry 4.0 ini. Oleh karena itulah Bambang meminta agar pemerintah mementigkan pendidikan agar kualitas masyarakat Indonesia bisa berkembang.

“Sehingga apa yang perlu dituntut, yang paling utama adalah pendidikan,”ujar bambang menegaskan saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional “Upaya Peningkatan Modal Manusia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Guna Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) di Jakarta, Rabu (14/8) pekan lalu.

Menurut Bambang lagi, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia setali tiga uang dengan dengan angkatan kerja yang dimiliki. Ditegaskan, angkatan kerja yang memiliki pendidikan SMP ke bawah masih mendominasi. “Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingginya angka kemiskinan di Indonesia,” ujar Bambang.

Hadiah Demografi

Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menyinggung masalah hadiah demografi yang akan diperoleh Indonesia dalam waktu beberapa tahun ke depan, namun disayangkan, SDM kita yang ada belum siap dijadikan modal. “Dalam memaknai bonus demografi,” ujarnya, “sudah siapkah modal  manusia Indonesia?” Tanya Bambang.

Peringkat SDM Indonesia berada pada posisi ke-87 dari `157 negara di dunia. Posisi ini kalah bila dibandingkan Vietnam yang menempati urutan 48 dunia dan nomor 2 di ASEAN.Apalagi disbanding Singapura , posisi Indonesia jauh di belakang.

“Sehingga kita harus benar-benar menyiapkan modal SDM, jangan hanya modal vokasi, tapi kita juga harus merencanakannya untuk jangka panjang, yakni lewat pendidikan .

Selain meningkatkan kualitas pendidikan, Indonesia harus focus pada investasi pada 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting dan tidak bisa diperbarui. Maka dengan investasi ini, ucap Bambang, akan memberikan modal berupa kecerdasan bagi generasi yang akan datang untuk siap membawa Indonesia ke Revolusi Indutrri 4.0

Teknologi Melaju Kencang

Dalam pandangan Lemhanas, geliat perubahan teknologi semakin melaju kencang , justeru cendrung susah diprediks. Meskipun pada satu sisi Revolusi Industri 4.0 diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi, di sisi lai juga berpotensi memicu kon flik antara kemajuan teknologi dan keberadaan insane atau humanexistance.

Berdasarkan hasil penelitian pendidikan Reguler Lemhanas angkatan LIX. Diketahui peningkatan modal manusia nasional belum menunjukkan penguatan yang optimal, padahal SDM Indonesia punya potensi besar. “Jika kemajuan tekologi tidak diimbangi dengan kekuatan kapasitas modal SDM, kemajuan teknologi akan mengganggu , bahkan mengancam keberadaan manusia sebagai modal manusia di dunia usaha,” ucap Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo.

Sementara itu menurut Ketua Seminar Lemhanas Jorry S Koloaya menegaskan, bahwa hasil pendidikan Reguler Lemhanas angkatan LIX menemukan kualitas  SDM Indonesia masih rendah untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Karena itulah, Jorry juga menekankan pentingnya peningkatan penguatan dengan modal SDM.

Menurut Jorry, kemajuan teknologi yang ada di Indonesia tidak sebanding dengan sumber daya manusia Indonesia. Saat ini ada distrubsi, aehingga perlu ada perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia , peningkatan akses dan pemanfaatan teknologi.

Jorry juga menandaskan bahwa berdasarkan kondisi yang ada, SDM Indonesia masih belum cukup untuk modal menuju dan bersaing dengan Negara-negara yang sudah maju di era Revolusi Industri 4.0 , apalagi jika ingin bersaing dengan Negara-negara maju di dunia.

“Modal manusia harus kuat.Apalgi jika ingin bersaing dengan Negara-negara maju di era ARevolusi Industri 4.0 ini seperti Jepang, China, Amerka Serikat, yang berkembang dengan pesatsehingga memperkuat kemajuan-kemajuan bangsanya.

Menurut Jorry ada dua komponen penting yang harus diperkuat membawa Indonesia menuju era revolusi Industri 4.0  yakni pendidkan dan karakter. Hal ini bisa dicapai dengan mengubah sistem pendidikan dan membangun infrastruktur pendidikan , termasuk infrastruktur teknologi pendidikan agar dunia pendidikan tidak mengamalami “gegar teknologi” pada era Revolusi Industri 4.0.(HTS/SI)

Fri, 23 Aug 2019 @11:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar