Jalan Tol Trans Jawa Hanya Untuk Orang Kaya Pengusaha, Pedagang Pantura Mati Suri ?

image

Tol Trans Jawa yang dilakukan Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kala, ternyata berdampak negatife, dan tidak menguntungkan bagi hidup, dan kehidupan sebagian warga masyarakat sekitar.

Pasalnya keberadaan Jalan Tol Trans Jawa, sedikit demi sedikit mulai  menghantui sisi perekonomian, masyarakat kecil yang sebelumnya mampu mengais rezeki lewat berbagai usaha di Jalan Reguler Pantura mulai dari wilayah  Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik hingga Surabaya. Jalan Reguler itu sudah sejak dulu memiliki nilai manfaat yang sangat tinggi menjadi urat nadi utama transportasi darat.

Setiap hari puluhan ribu unit kendaraan bermotor dari berbagai jenis melintas, beristirahat, dan belanja berbagai keperluan di warung milik Wong Cilik seperti Warung Makanan, Minuman.  Apalagi menjelang Hari Libur Panjang seperti Tahun Baru, dan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran), Jalur Pantura ini menjadi pilihan utama buat masyarakat Indonesia yang akan mudik ke Jawa Tengah dan Timur.

Ironis munculnya JaJan Tol penguhubung dari Jakarta hingga ke Jawa, lambat laun pengguna jalan teralihkan perhatiannya. Iming-iming bisa cepat tiba lebih dulu di kota tujuan, menjadi daya tarik masyarakat yang akan pergi ke wilayah Jawa Tengah dan Timur menggunakan mobil pribadi. Namun setelah mereka sadari ada biaya tambahan sangat tinggi yang harus dikeluarkan untuk membayar Tol Tran Jawa harus mengeluarkan uang biaya bayar Tol hingga Rp. 1 juta lebih.

Sementara itu akibat beralihnya pengguna jalan reguler ke jalan tol, kini ratusan mungkin bisa ribuan usaha kecil milik rakyat biasa seperti Rumah Makan, Warung Jajan, sejumlah lapak Pedagang Kaki Lima, dan Pedagang Asongan termasuk penginapan mulai gulkung tikar, tutup Mati Suri, wargapun mulai kehilangan mata pencaharian, dan merasa kesulitan untuk bisa membiayai hidup dan kehidupan sehari-hari, baik untuk biaya sekolah termasuk beli kebitihan seperti sembako.

Data yang berhasil dihimpun PROGRESIF JAYA dari berbagai sumber termasuk hasil survey salah satu tim media nasional terdampak keberadaan Tol Trans Jawa. Terdapat sejumlah fasilitas seperti rumah makan, tempat istirahat, hingga Stasiun Pengisian Bakar Umum (SPBU) tutup tidak beroperasi. Terpantau dari Cikampek hingga ke Cirebon saja, kurang lebih ada sekitar tiga SPBU tutup, belum lagi restoran yang biasa dulu digunakan oleh para sopir Bus, hingga truk istirahat dan makan, kini sudah tidak beroperasi lagi, termasuk salah satu restoran siap saji.

"Sudah lama tutup, praktisnya sejak Tol Cipali dan Trans Jawa ini dibuka. Banyak truk dan bus yang lewat sana, sehingga tempat makan ini ikut tutup karena sepi sekarang ini," ucap sejumlah pengemudi truk berada di sekitar kawasan Subang, Jawa Barat, saat mereka beristirahat di salah satu restoran yang masih buka di Jalur Pantura, baru-baru ini.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, sistuasi jalur Pantura begitu hidup penuh gairah, kini jauh terasa beda, jalur reguler sekitar Pantura  lebih sepi. Kisah Pilu warga masyarakat, pengusaha kecil, rumah akan di  jalur jalan regular pantura 'Jalur Emas kini Mati Suri Tinggal Kenangan'.

Sejumlah warga menuturkan, keberadaan Jalan Tol Trans Jawa hanya menguntungkan orang-orang kaya berduit, khususnya pengusaha bermodal besar. "Waktu belum ada tol penghasilan kami bisa sampai Rp 2 juta per bulan, sekarang paling hanya bisa mendapatka, Rp 300 ribu sampai Rp. 500 ribu setiap bulannya, karyawan juga sudah tidak kami miliki, tak mampu lagi bayar, jelas pendapatan kami  menurun jauh," tutur warga sekitar.(*)

Pewarta : Asep Sofyan Aff

Mon, 11 Feb 2019 @13:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar